Jumat, 08 Juli 2011

G r e g o r i u s

by: Bastanta P. Sembiring
            Gregorius S. Meliala. Itulah namaku, keren-kan? He-he-he. Aku seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri di kota Medan, hingga karena sesuatu hal aku harus angkat kaki dari kampus.  Kepada kedua orang tuaku, aku selalu beralasan kalau otakku tidak sanggup mengikuti setiap mata kuliah di kampus. Itulah alasan yang selalu aku lontarkan jika mereka bertanya mengapa aku sampai keluar dari kampus. Mereka tidak pernah percaya dengan alasanku itu, akan tetapi sebagai orang tua yang baik, mereka menyarankanku untuk mengambil kuliah di lain tempat, atau setidaknya mengikuti pelatihan-pelatihan keterampilan untuk masa depanku nantinya. Cetus orang tuaku.  Aku selalu mengelak dengan mengatakan itu tidak perlu, namun mereka dengan sabar terus memberikan dorongan kepadaku. Ya, itu wajar pikirku. Sebagai orang tua tentunya mereka tidak ingin anaknya nantinya susah dalam menjalani hidup. Hingga akhirnya aku bersedia mengikuti nasehat mereka dan melanjutkan kuliahku di salah satu perguruan tinggi swasta yang masih berada di sekitar kota Medan juga.
            Tiga tahun setelah itu. Akhirnya selesai juga studi Strata Satu (S-1) ku, dan pada bulan November 2009 aku di wisuda dan berhak menggunakan gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd) di belakang namaku. Lega rasanya, satu keinginan orang tuaku sudah aku penuhi, dan sekarang babak baru dalam kisah hidupku akan segera dimulai. Pikirku! “Inilah Kisah yang Sesungguhnya.
            Dengan bantuan seorang kerabat, aku dapat bekerja dengan cepat, walau jujur berat rasanya. Menjadi tenaga honorer atau tepatnya “Guru tak tetap (GTT)” dengan gaji yang kecil (bahkan sering molor hingga berbulan-bulan), fasilitas minim, dan di daerah pelosok Provinsi Jambi yang terpencil dengan peradaban dan budaya yang jauh berbeda dengan daerah asalku. Orang-orang bilang daerah Indonesia yang belum merdeka. (PLN, Telphon, signal seluler, PAM belum ada). Namun, daripada menjadi pengangguran dan beban orang tua “Itu jauh lebih baik” pikirku. Makanan (slah satu penderitaan yang kurasakan: susah mencari makanan enak. Hahahhaha....), bahasa, dan bahkan udara dan airnya membuatku tidak nyaman dan merasa berat rasanya untuk bisa bertahan lama di sana, akan tetapi seperti kata pepatah ‘alla bisa, karena biasa’ mungkin itulah yang terjadi kepadaku, semakin lama aku semakin terbisa dan merasa nyaman.
            Seperti petuah mengatakan 'Di mana tanah di pijak, di situ langit di jujung' itulah yang mulai aku tanamkan dalam hati kecilku, supaya aku sanggup bertahan di tanah perantauan. Orang tuaku sempat berpesan sebelum aku pergi meninggalkan rumah : ‘Jikalau kita pergi ke daerah rantau/asing, harus selalu bijak dan bersahaja dalam bertindak, dan jangan lupa mencari “Sangkep Nggeluh” ( sanak saudara), sebab merekalah nantinya orang tua dan sanak saudaramu di perantauaan  yang menjagamu dan menemanimu dalam suka maupun duka’ dan kata-kata itu tidak pernah kulupakan dan selalu tertanam dalam hati dan pikiranku.
            Kehidupanku di tempat baruku berjalan normal, tidak jauh berbeda dengan saat aku masih di Medan; aku senang dapat teman-teman baru yang beraneka ragam dari berbagai suku yang saat di Medan tidak aku temui, maklumlah aku tipe anak rumahan. Seperti ada temanku dari Flores, Kalimantan, Sulawesi dan di tambah etnis-etnis dan kaum yang baru aku kenal dan bahkan tidak pernah mendengarnya baik dari daerah-daerah di Sumatera maupun Jawa. Bahkan, di tempat ini aku banyak belajar hal-hal yang baru, dan kehidupan sosialku yang sesungguhnya disinilah di mulai. Aku mulai belajar menempa diri menjadi sosok humanis yang kritis, peduli, lembut, dan mulai mencintai alam, seperti sosok Sir Thomas Stamford Raffles yang tiga tahun sebelum kepindahanku, aku sempat membaca sebagian dari kisah hidupnya dalam buku “Raffles Sang Pejuang” karya: Thomas Janferson. Sosok peria yang lembut dan berwibawa, orientalis, pecinta ilmu pengetahuan, anti perdagangan manusia, anti monopoli ekonomi (liberal), dan juga pengarang dari buku: “History Of Java” serta seorang administrator Inggris di Bengkulu yang juga kita kenal sebagai penemu bunga raksasa (bunga bangkai) yang akhirnya dinamai dengan namanya dan sahabatny “ Rafflesia Arnoldi.” Pendiri Singapura ini yang bagiku sebagai teladan dalam hal humanisme dan etos kerja, seorang administrator sejati, walau aku sadar sesungguhnya tidak sanggup seperti dia. Namun, inilah hidup! Harus terus berjuang, berusaha menjadi yang terbaik.
....................
            Pagi itu seperti biasanya aku dan sahabatku Husin sudah keluar dari rumah. Tepat pukul 07.00 wib. Dengan mengendarai sepeda motor Honda Supra-X ku yang sudah lebih lima tahun menemaniku dari Medan hingga Provinsi Jambi ini, aku dan Husin melaju kendaraan yang ber-plat “BK” itu dengan santai menyusuri perbukitan di sepanjang Jalan Lintas Timur Sumatera, Jambi. “Wah! Inilah sisi lain dari daerah ini yang membantuku untuk terus bertahan” bisikku dalam hati, mengingatkanku dengan tanah asal nenek moyangku di dataran tinggi Karo. Pemandangan perkebunan kelapa sawit milik warga yang indah  tampak di sepanjang jalan, dan di puncak tanjakan kita dapat melihat gumpalan awan pagi yang mengepul seperti salju yang melayang-layang, di tambah udara pagi yang dingin menusuk sampai ke tulang-tulangku . Aku teringat akan kata seorang peria tua yang mengatakan: “Inilah Kanaan” tanah yang dipenuhi madu dan gandum (mungkin padi/beras) yang dilingkupi dengan keindahan dan kedamaian abadi. Namaun, ada pertanyaan yang selalu mengganjal pikiranku “Apakah itu benar (maksudku abadi)? Dan sampai kapan?” sebab, industri sudah mulai mendekati daerah tersebut. Tidak bisa kubayangkan awan puti sebersih bak salju itu suatu saat ternodai oleh kepulan asap industri; tebing-tebing yang menambah unik serta indahnya derah ini akan di ratakan karena alasan efisiensi BBM, dan hutan-hutan serta perkebunan kelapa sawit milik warga berubah menjadi komplek industri dan permukiman padat penduduk yang sumpek dan kumuh, dan belum lagi ekspansi korporasi yang bisa-bisa menggeser tradisi budaya, bahkan menyingkirkan masyarakat. 
            Ini mimpi buruk bagiku. Tidak jarang di tengah malam menjelang pagi aku terbangun dari mimpiku, saat dimana yang lainnya tertidur pulas aku malah dibebani dan dihantui oleh mimpi buruk yang sudah seminggu belakangan ini menjadi bunga-bunga tidurku. Ikan-ikan di sungai bermatian terkontaminasi limbah industri, burung-burung tidak lagi berkicau, sura simpai (sejenis kera besar berbulu lebat hintam dan putih) yang menangis seperti bayi yang merenget meminta susu tidak lagi terdengar, bahkan mungkin di hari minggu aku tidak bisa lagi berburu karena hewan-hewan di hutan sudah habis terbakar atau berlarian akibat pembukaan lahan perkebunan besar-besaran, udara yang segar berganti asap pabrik dan kebakaran hutan tanpak dimana-mana. Oh! Ini benar-benar mimpi buruk buat desa baruku.
            Kubayangkan teriakan mesin-mesin disel akan mengganggu tidurku dimalam hari. Eksodus besar-besara tak terkendali dan tanpa dibarengi pemahaman manfaat lingkungan dan tentunya taraf ekonomi yang sanggup mendukung itu semua, seperti tata ruang kota yang baik dari segi tata letak bangunan, pengelolaan sampah dan limbah cair, taman kota, tempat bermain, dan tentunya udaranya. Oh, dunia! Apakah tidak ada konsep medernisasi dan industrialisasi yang lebih bersahabat dengan alam? Mungkit, tidak! Aku membayangkan suatu saat nanti hidup di kota yang tak berprikemanusiaan, yang dimana tidak ada ketersediaan oksigen yang cukup menunjang kehidupan yang sehat, sungguh kita sudah di perlakukan tidak adil. Terkadang aku mengutuk kebijakan-kebijakan pemerintah atas ijin-ijin industri yang tidak memperhatikan kehidupan di sekitar yang hanya mengaung-ngaungkan semangat pembangunan. Yang dipikirkan hanyalah bagaimana mendongkrak PAD saja. AMDAL, apa pun itu namanya, menurutku hanya isapan jempol belaka, yang ada alam semakin rusak.
            Akh! Tidak ada artinya mengeluh, toh dunia ini tidak dapat berbuat apa-apa! Dalam benakku selalu berkata “Sedikit perbuatan baik dari kita, semoga yang lain mengikutinya!” mungkin itu yang benar, menurutku! Hal ini sudah benar-benar ku amini dalam hatiku, dan tersemat dalam setiap langkahku semenjak kehidupan baruku di daerah ini dimulai, maka dimulailah projek kecilku itu “Perbaiki lingkungan, dengan memperbaiki pola pikir kita sendiri dan semoga yang lain juga serupa.  Waw! Bagiku ini suatu resolusi besar dalam hidupku, dimana gaya hidup dan pola pikirku akan kuubah seratus delapan puluh derajat (180°). Hehehe.... “from ziro to Hero” cetusku sambil tersipu malu.
            Perjalanan dari rumah menuju tempatku bekerja di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri sekitar lima belas menit. Pukul 07. 20 wib “Oh! Bertambah lima menit” kataku sambil memandangi jam tanganku saat di parkiran sekolah.
            “Munggkin karena tadi kita jalannya lambat” jawab Husin.
            “Tidak apa. Toh kita tidak terlambat sampai di sekolah” balasku.
Di sekolah tempatku dan Husin mengajar, bel masuk berbunyi tepat Pukul 07.30 wib. Hal ini karena jarak sekolah dengan permukiman warga cukup jauh dan kebanyakan pelajar di sekolah itu tinggal di kampung-kampung pedalaman di sekitar, dan dengan jalan melintasi medan yang terjal dan licin. Beruntung aku mendapatkan tempat tinggal di rumah keluarga Husin yang letaknya tepat di pinggir jalan negara.
            Keluarga Husin adalah keluarga Melayu yang sudah tinggal di daerah itu lebih dua puluh delapan tahun, jadi Husin yang sudah berusia dua puluh tujuh tahun adalah putra kelahiran derah tersebut. Menurut cerita ibunya Husin, putera ke-tiganya itu lahir tepat setahun kepindahan mereka ke desa ini dan sejak lahir hingga lulus SMP, Husin di besarkan di sini; SMA-nya baru Husin di kirim ke Palembang di titipkan kepada Pamannya hingga menyelesikan studi Strata Satu-nya (S-1) dan kembali ke desa ini untuk mengabdi sebagai guru Bahasa Inggris.
            Aku selalu salut dengan keluarga ini, berbeda dengan keluarga Melayu pada umumnya di daerah ini, walupun hidup susah dengan mata pencarian ayahnya sebagai penjual ikan dari hasil tangkapan di sungai dengan jala dan bubu (sejenis keramba dari rotan) serta buruh tani, dan ibunya Mak Sitti, (aku memanggilnya Mak (ibu)); seorang tukang cuci dari rumah ke rumah. Akan tetapi Husin bisa menyabet gelar sarjana dari Universitas Sriwijaya, Palembang dan kedua abangnya juga lulus SMA dan keduanya membuka bengkel di kota Jambi. Sedangkan ketiga adiknya, Sitti Rhodiah sekarang duduk di kelas tiga SMU dan bercita-cita ingin menjadi guru seperti Husin abangnya, selanjutnya Lukman Hakim sudah kelas dua SMP, dan si bungsu Rodhi Harun sekarang duduk di bangku SD kelas lima. Wah! Rame. Mereka sangat akur dan kompak, membuatku kagum dan juga terhibur.
Tinggal dalam keluarga Melayu penganut ajaran Islam Konservatif  tidaklah terasa risih bagiku yang seorang Nasrani penganut ajaran Johanes Calvyn untuk tinggal dan berbagi, jujur mereka berbeda, aku tidak takut sakit hati jika memberi atau meminta sesuatu dari mereka. Tidak ada rasa jijik mereka akan pemberianku, begitu juga aku sebaliknya, ini sangat jauh berbeda dengan orang-orang yang sering ku temui, yang mereka merasa jijik denganku dan selalu bilang ‘orang Karo makan babi;’  itulah makna berbagi yang sesungguhnya menurutku: “Tulus, tiada rasa curiga, dan jijik.”
            Saat melintasi setiap ruangan di sekolah, aku selalu disibukkan dengan membalas senyum dan sapaan dari siswa/i, rekan sesama guru, serta pegawai tata usaha. Maklumlah, aku adalah guru termuda dan terpopuler di sekolah itu. Hehehe... sedikit narsis! Kedekatanku dengan siswa/i dan semua penghuni sekolah itu, membuatku merasa terhibur dan menempa aku menjadi mahluk sosial yang sesungguhnya. Tetapi seperti kata pepatah “Andere zeite, anderi zitten” akupun merasa risih jika seorang warga ataupun siswa menjabat tanganku serta menciumnya, mungkin karena tidak terbiasa.
.....................
            Hari itu Sabtu, 13 Februari 2010 pukul 10.36 wib bel panjang berbunyi, menandakan semua siswa/i harus berbaris dilapangan. Syukurlah menjelang siang itu cuaca mendung jadi siswa tidak kepanasan walau harus berdiri di lapangan.
            Kulihat wakil kepala sekolah bigian kesiswaan keluar dari kantor menuju mimbari tepatnya di depan ruang guru dan menaiki mimbar dengan ukuran 1 x 1,5 meter, dengan tinggi sekitar 125 cm, dan memiliki empat anak tangga itu.
            “Assalam alaikum wr.wb”
            “Walaikum salam wr.wb” jawab seluruh siswa/i serempak.
            Tanpa membuang-buang waktu Pak Saudin menjelaskan mengapa seluruh siswa/i diminta berkumpul di lapangan upacara. Katanya: “Anak-anak sekalian di minta berkumpul di lapangan ini, dikarenakan hari ini kepala Sekolah dan wakil, serta dewan guru, dan seluruh staf tata usaha, akan melaksanakan rapat, prihal pembentukan kepanitia serta persiapan Ujian Akhir Sekolan Berstandar Nasional (UASBN) dan Ujian Nasional (UN) yang sedianya sebentar lagi akan di hadapi oleh anak-anak kelas IX.” Lanjutnya, ” “Jadi untuk itu, kalian di kumpulkan di lapangan ini dan setelah ini bapak harapkan kalian langsung pulang ke rumah masing – masing dengan tertib dan jangan ada yang singgah ke tempat lain untuk menghindari hal yang tidak kita inginkan. Tanpa penghormatan, bubar barisan jalan!” mendengar aba-aba itu, sepontan siswa/i pun bubar meninggalkan lapangan.
            Rapat! Salah satu hal yang paling tidak aku sukai, dari antara beberapa hal-hal lainnya.
            Pulang dari mengajar di sekolah aku menyempatkan diri berkebun. Maklum, anak muda penuh ambisi dan cita-cita, serta terinspirasi oleh saudara seperantauan lainnya yang telah banyak sukses dari berkebun kelapa sawit; akupun tidak mau terus berdiam di tempat ini walau aku sudah mulai menyukai tempat ini. Tetapi bagiku, tetap kehidupanku yang sesungguhnya bukanlah disini; aku merasa ada hal-hal besar yang menantiku di luar sana, dan hal itu juga sering ku katakan kepada para siswa/i untuk memotifasi mereka untuk lebih giat belajar.
Dengan bantuan orang tuaku, aku membeli dua hektar tanah yang kutanami dengan kelapa sawit. Aku berharap, dari situ aku dapat berkembang dan bisa keluar dari tempat ini. Selain berkebun ku habiskan hari-hariku dengan membaca, menulis, dan terkadang berjalan kaki keliling kampung bersosialisasi dengan warga setempat. Itulah hari-hari bahagia selama di rantau orang.

***********************
April 2010 tak terasa UN-pun telah tiba, setelah bulan lalu tepatnya Maret 2010 UASBN telah terlaksana. Pagi-pagi sekali para guru yang masuk dalam kepanitiaan sudah mulai sibuk, tak terkecuali aku yang merupakan anggota seksi peralatan dan konsumsi sudah disibukkan dengan tugas-tugas yang tidak terlalu berat tetapi cukup banyak dan merepotkan. Pukul 06.50 kami sudah mulai bekerja, ku lihat soal-soal dan lembar jawaban ujian yang di sampuli amplop besar berwarna kuning sudah disusun di atas meja di ruang TU, tertulis ruang I s/d  ruang VII.
Soal-soal datangnya dari pusat dan dengan sistem pengawas silang dari sekolah lain. Tapi bagiku ini biasa saja, kita-kan sudah memberikan materi pelajaran kepada siswa selama lebih kurang tiga tahun dan berdasarkan atas kurikulum secara nasional . “Ya, siapa suruh gak belajar!” Cetusku dalam hati. Namun bukan hal itu yang ditakuti para guru, terutama tenaga honorer seperti aku. Kalau target kepala tak tercapai ya, siap-siap angkat kaki! Hehehe...; amanat kepala sekolah (tepatnya Kepala Dinas) 100% lulus! Waw! Target dan semangat yang hebat, kedengaranya! Dengan alasan menjaga martabat sekolah, kepercayaan masyarakat, dan kwalitas. Kwalitas? Yang benar aja! Sebab, bagiku sama aja bohong karena menurutku mutu atau kwalitas pendidikan tidaklah di tenukan angka-angka subjektif di atas kertas, apa lagi dengan cara-cara kotor dan memalukan. Jujur, banyak sekali hal-hal terjadi di lingkungan korps Pahlawan Tanpa Tanda Jasa ini yang kurang membuatku nyaman, mulai dari ratting Korupsi tertinggi di Departemen Pendidikan, itu di tingkat elit, bagaimana di bawah?  Ada istilah “team sukses,” semacam team yang bekerja; berusaha mendapatkan soal dari siswa (karena soal dan lembar jawaban yang dikirimkan disesuaikan dengan jumlah siswa, jadi tidak ada soal yang sisa) tanpa sepengetahuan pengawas ruangan, pengawas dari Dinas Pendidikan, kepolisian, dan pengawas independen; kemudian mengerjakan soal-soal yang telah didapat ke suatu tempat yang gelap dan rahasia dan kemudian membagikan hasilnya (jawaban) ke peserta ujian tanpa diketahui pihak-pihak luar. Waw, seru! Semacam main “Secret Operation,” kayak agen-agen FBI di film hollywood. He he he; atau cara lainnya; bermain dengan pengawas-pengawas agar diberikan kesempatan memberi jawaban ke peserta ujian, ataupun yang lebih enaknya dan lebih elegan: cari bocoran soal, suruh dipelajari siswa dan dibahas di sekolah bersama team; tiba ujian, beres deh! Kan lebih elegan, ya ‘gak? Dan yang paling menyakitkan bagi seorang guru adalah: bermain hati nurani, seperti misalnya seorang siswa/i bernilai 3,40 didoping jadi 8,00 supaya tercapai standart kelulusan, dan siswa/i yang nilai aslinya 8, 00 tetap saja 8,00. Wah, wah, wah, kasihan. Mending ‘nggak usah belajar, toh nilai 8,00 sudah di tangan. He he he. Dan ada satu hal lagi senjata ampuh. Niali akhlak mulian, biasanya ini jadi senjata ampuh sekolah. Hm... Sudahlah! Semakin banyak di bahas maka kita akan merasa semakin tidak ada artinya berbuat baik. Terkadang sedih rasanya, antara tugas (tugas dari atasan), tanggung jawab, dan hati nurani. Hal-hal semcam itu bagiku sangat mengganggu ketenanganku. Namun, aku mencoba terus berahan setidaknya sampai akhir semester ini. Hm...
*********************
Menghilangkan suntuk, di sela-sela rutinitas yang terlihat sibuk. Husin sering mengajakku memancing ke kanal ataupun sekedar berjalan-jalan. Tidak jarang aku menjumpai seorang siswiku di gandeng oleh peria yang mungkin seusia denganku bahkan jauh lebih tua, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Terkadang aku menghindar tetapi sering sulit untuk menghindar dan terpaksa aku harus menerima sapaannya dan menelan menah-mentah senyuman yang menurutku sebuah penghinaan dari lelaki yang menggandeng siswiku itu.
Bukan cemburu tetapi, menurutku usia dibawah 15 tahun (SMP) belumlah pantas untuk pacaran dan keluyuran, apalagi dengan seorang peria dewasa. Pemandangan siswiku digandeng, dibonceng sambil berpelukan mesra diatas sepeda motor merupakan pemandangan yang sudan menjadi makanan sehari-hariku. Aku selalu bertanya kepada diriku: “Apakah guru itu tidak berharga lagi di depan siswa/i-nya dan apakah kata “sungkan dan segan” sudah sirna dari muka bumi ini? Kalau aku ingat masa-masa sekolah dahulu, jangankan bermesraan dihadapan guru atau orang tua, ber pas-pasan saja dengan guru aku takut dan lebih memilih untuk menghindar. Sekarang sangat berbeda jauh! 
Tidak jarang aku menegor perbuatan mereka dan memberikan mereka nasehat di sekolah (kalau diluar sekolah aku jarang memberi nasehat, karena kejiwaan masyarakat di sini yang sensitif dan rada nggak nyambung) namun, mereka seakan-akan tidak mau tahu dan menganggapku sebagai radio yang sudah rusak “Dasar, anak kurang ajar!” dalam hatiku, tak jarang mengutuk jika sudah merasa jengkel.
Sepertinya para orang tua tidak peduli dengan perilaku anak-anaknya. Yang penting dilahirkan, diberi makan, dibesarkan, dan dinikahkan. Wah, simpel banget! Namun, kalau memang begiu mengapa juga mereka mengeluh (maksudnya para orang tua) jika putri mereka tiba-tiba hamil dan tidak tahu siapa ayah dari janinnya, atau putrinya diculik dan dijual, atau putrinya lari dengan suami orang. Dibalik keindahan dan ketentraman daerah ini ternyata tersimpat banyak masalah sosial yang seharusnya tidak terjadi. Kurang setahun aku tinggal di daerah ini entah sudah berapa aku dengar gadis yang hamil, menikah dibawah umur, menikah dengan peria tua, menjadi simpanan, di jual ataupun diperkosa dan dibunuh, dan kebanyakan kasus itu dialami gadis antara usia 12 – 16 tahun.
            Satu hal lagi yang membuatku merasa jengkel, masalah lalu lintas. Melihat banyaknya kecelakaan di jalan yang menelan korban nyawa. Dari sekian banyak kasus, ini juga kebanyakan menimpa remaja dan dari para saksi dan apa yang kulihat, dikarenakan perilaku dan kesadaran berlalu-lintas yang buruk (ugal-ugalan, tidak pakai perangkat keselamatan seperti: helm, jaket, dll). Tidak jarang disekolah aku menasehati para siswa/i dan memberi arahan cara berlalu-lintas yang baik “Santun berlalu lintas, hati-hati, dan pakai helm” kata-kata itu sering ku lontarkan. Bahkan, tidak jarang aku menegur siswa, bahkan juga orang tuanya agar mereka memperhatikan cara anaknya dalam berkendara namun, mereka selalu salah mengerti dan memandangku sinis.
Menjelang ujian semester untuk kelas VII dan VIII (kelas IX sudah selesai UASBN dan UN) pihak sekolah mengadakan rajia mendadak ke kelas-kelas. Banyak benda-benda unik yang ditemukan. He he he. Mulai dari HP yang di dalamnya ada videonya oang primitif atau orang miskin (porno), buku yang berisi bacaan mamak-mamak dan bapak-bapak, rokok, benda tajam, dan barang-barang yang tidak bermanfaat lainnya. Yang membuatku tertarik adalah pengakuan seorang siswa saat diintrogasi oleh guru BP (bimbingan penyuluhan) dan kordinator OSIS, yang mengaku kalau di HP-nya banyak disimpan gambar dan video Miyabi. Mungkin dia fans beranya Miyabi. Hehehe...
“Ibuk... ampun, ampun ibu,” sambil menangis siswa itu meminta ampunan gurunya. “ Memang itu hp saya, tapi bukan saya yang taruh isinya itu.” Si siswa mencoba membela diri sambil meneteskan air mata.
“Sudah kedapatan masih mengelak juga” omel ibu Sitti, “jelas-jelas ini kan hp kamu, masih mau mengelak lagi.”
“Benar ibu... bukan saya yang taruh itu semua.” Si siswa terus berusaha meyakinkan ibu gurunya dengan air mata yang semakin deras mengalir.
“Sudah, sudah! Tidak usah kamu menangis begitu!” hardik ibu Sitti, sambungnya “Ini, hp kamu kan?”
“Iya bu.” Jawab siswa itu.
“Lantas, mengapa kamu bilang bukan kamu yang menaruh isinya? Terus siapa dong yang taruh, ibu kamu?” tanya ibu Sitti.
“Abang saya yang taruh bu...” sambil tersedu-sedu siswa itupun menjawap pertanyaan ibu Sitti.
“Abang kamu?” tanya ibu Sitti kembali dengan penuh kebingungan “Masa abang kamu lakuin seperti itu?”
“Iya, bu!” air matanya tercurah semakin deras “Abang saya yang menaruhnya dan menyuruh saya menontonnya”
“Terus kamu turuti?”
“Awalnya tidak ibu, tapi dia memaksa dan akhirnya saya mau juga menontonnya” jawab si siswa sambil tersendu-sendu menahan tangisnya. Wajahnya memerah, matanya berbinar-binar, dan sekucur pipinya dibasahi air matanya.
Ibu Sitti terdiam, matanya berbinar-binar, bingung harus merespon dengan bagaimana. Keputusannya hanyalah memanggil orang tua si siswa untuk meminta kejelasan dan agar orang tua siswa tahu apa yang dialami anaknya.
Tiga hari setelah itu. Seorang peria paruh baya masuk ke ruang guru. "Permisi bapak dan ibu." Sambil menghampiri kami, lelaki itu mengulurkan tangannya memberi signal ingin berjabat tangan. Kebetuklan di dalam ruangan itu hanya kami berlima; aku, Husin, pak Jhonson, ibu Faridah, dan ibu Sitti.
“Oh, silahkan duduk” sambut pak Jhonson “Apa yang bisa kami bantu pak?’’ lanjut pak Jhonson bertanya.
“Maaf bapak – ibu. Saya orang tua dari Yudi, kemarin saya dikirimi surat panggilan” jawabnya.
“O, jadi bapak orang tuanya Yudi ya?” tanya ibu Sitti sambil berpindah lebih mendekat dengan kami.
“Iya, bu.” Jawab lelaki itu.
Di ruangan itu terdapat sederet meja yang terbentang membentuk persegi panjang dan di tengah terdapat sebuah meja panjang yang biasanya kami isi dengan bunga dan terkadang kalau ada makanan.
Kebetulan aku, Husin, dan pak Jhonson tadi duduk di bangku paling pinggir dari pintu masuk yang menjulur panjang di depan pintu, dan ibu Sitti tadinya di bangku paling ujung yang menjulur panjang di samping kiri pintu jika kita masuk. Jadi, posisi kami sekarang: saya di meja pertama yang di hadapan pintu, di susul Husin, dan ibu Faridah. Sedang pak Jhonson berdiri menghadap ke arah kami; orang tua siswa itu duduk di bangku meja pertama di samping pintu dan di sebelah kirinya ibu Sitti. Jadi posisi duduk kami membentuk sudut sembilan puluh derajat (90°). 
“Jadi begini pak!" kata ibu Sitti, sambungnya: "Beberapa hari lalu, kami mengadakan rajia ke kelas-kelas dan menangkap beberapa siswa yang membawa barang-barang yang semestinya tidak dibawa kesekolah. Dan, anak bapak: Yudi kami tangkap membawa HP dan saat di periksa isinya penuh dengan konten-konten yang tidak bagus”
“Maksud Ibu, konten yang bagaimana?” tanya lelaki itu.
“Ya, kami temui banyak poto dan film porno di dalamnya dan pengakuan dari Yudi kalau yang memasukkannya ke HP-nya dan menyuruhnya untuk menuntonnya adalah abangnya.” Lanjut ibu Sitti “ Jadi, ini sangat tidak baik untuk perkembangan anak kita, pak! Kami memanggil bapak kemari agar bapak tahu apa yang terjadi terhadap anak ini dan kami harap kerjasama bapak sebagai orang tuanya untuk mendidik anak ini dan lebih mengawasinya.”
“Iya, bu. Saya sudah tahu.’’ Lanjunya “tetapi, anak saya tidak di hukum kan?”
“Ya, tentunya kalau anak yang melanggar peraturan harus diberi tindakan disiplin, ini untuk kebaikan dia juga, pak” jawab ibu Sitti.
“Wah! Kalau itu saya tidak setuju, bu!” sela lelaki itu, sambungnya “Saya saja orang tua kandungnya tidak pernah menghukumnya! Ini, Cuma kedapatan bawa HP yang isinya gambar dan video porno, masak di hukum!”
Sejenak kami bingung harus menanggapinya bagaimana. Dalam hatiku berkata “Kawan ini orang tua yang bagaimana sih! Apa sudah gila? Masak anaknya yang kedapatan bawa HP berisi konten pornu masih berdalih “Cuma!” gila kawan ini.” Hehehe...
“Jadi, menurut bapak itu hal yang biasa dan wajar untuk anak seusia Yudi?” sela pak Jhonson dengan pertanyaan.
“Dia juga perlu tahu kok. Nantinya kan dia juga butuh! Masak begitu saja dimasalahkan!” jawab lelaki itu.
Kami terbengong mendengar jawabannya. Wah! wah! wah! Benar-benar orang tua yang moderen plus gila, sinting, idiot....
“Kalau begitu, sana bawa anak bapak! Sebab, kami tidak sanggup mendidiknya seperti yang bapak harapkan....”  kata pak Jhonson dengan penuh emosi.
Banyak sekali hal-hal bahagia, lucu, sedih, konyol, dan menjengkelkan dalam hari-hariku setahun di desa terpencil itu.  

********************
Akhir Juni 2010 tugasku selesai sebagai seorang guru dalam semester itu. Ku serahkan surat pengunduran diri. Huh akhirnya aku terbebas dari rutinitas yang meletihkan dan menjengkelkan, namun juga menyenangkan. Teman-teman dan siswa/i tampak sedikit bersedih dan tidak rela melepasku, namun keputusanku sudah bula, aku tetap mengundurkan diri.
Kamis 08 Juli 2010 pukul 18.30 wib, aku dijemput oleh beberapa anggota polisi dari Mapolres, dan aku langsung dibawa ke tahanan polisi. Aku ditangkap atas tuduhan membiayai (penyandang dana) dari aktifitas perambahan hutan lindung di kawasan hutan lindung Bukit Tiga Puluh, Jambi. Namun, pada hari Sabtu 10 juli 2010 dua hari setelah penangkapan, aku dibebaskan karena dari hasil penyelidikan, keterangan yang ku berikan, bukti-bukti, serta keterangan dari para saksi, aku tidak bersalah dan ini hanya kesalah pahaman. Aku memang pernah di ajak (diminta) seorang teman untuk menjadi penyandang dana dalam pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, dengan perjanjian: aku dan dua orang lainnya menyerahkan  sejumlah uang untuk beaya pembukaan lahan dan pembelian bibit, dan setelah 1 tahun bibit ditanam, lahan itu akan di bagikan menjadi lima bagian; tiga bagian untuk kami para penyandang dana dan dua bagian untuk para pelaksana di lapangan. Dari hasil penyelidikan pihak kepolisian kami bertiga (para penyandang dana) adalah korban penipuan dan pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh para panitia pembukaan lahan, kepala desa, camat, serta unsur muspida desa dan kecamatan lainnya. Syukurlah, ternyata keadilan dan hukum masih berlaku cetusku.
Sebulan kemudian, tepatnya di bulanAgustus tahun yang sama aku harus pindah ke Jakarta, karena lamaran kerjaku diterima di salah satu perusahaan bersekala nasional yang bergerak di bidang telekomunikasi. Jadi, sesuai tahapan tes aku harus mengikuti pelatihan selama tiga bulan di Jakarta sebelum nantinya di tempatkan didaerah asal (sesuai domisili saat melamar berdasarkan KTP); aku sudah tidak sabar untuk kembali ke kota Medan, karena saat mengajukan lamaran aku menggunakan KTP Medan jadi nantinya akan ditempatkan di kota Medan.
Selama di Jakarta tidak banyak yang ku lakukan; mengikuti pelatihan, sesekali jalan-jalan dan selebihnya ku habiskan telponnan dengan teman-temanku terutama dengan teman baikku Husin dan keluarganya. Senang rasanya bisa mendengar kabar baik darinnya; dia sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis Kerinci dan berencana dalam waktu dekat akan menikah. Satu hal lagi, aku kalah dibanding dengan Husin. Tapi, tidak apa; seperti pepatah Jerman mengatakan “ wer zuletz lacht, lacht am besten" yang artinya: "yang paling belakangan tertawa, dialah yang paling bahagia” semoga saja!
Husin banyak bercerita tentang perubahan yang terjadi di desa; tentang prediksi-prediksiku, dia katakan semua nyata terjadi. Aku teringat dengan beberapa daerah perluasan seperti Bagan Batu, Kota Pinang, Duri, Pangkalan Kerinci, dan prediksiku selanjutnya adalah Simpang Rambutan (Suban). Di tahun 1997, saat untuk kali pertama aku melintasi Jalan Lintas Timur Sumatera aku melihat daerah-daerah ini masih kumuh, sepi, dan jarak antar rumah rata-ratanya 100 : 1 (dalam radius 100 meter hanya terdapat 1 rumah/bangunan), hal ini berlangsung hingga memasuki tahun 2000. Namun saat daerah-daerah ini membuka diri dan memberi kesempatan bagi para pendatang untuk bermukim, membuka lahan, dan berusaha. Daerah-daerah ini tumbuh dengan pesat menjadi kota-kota perdagangan. Bangunan yang dulunya berjarak, sekarang sudah merapat; yang dulunya dari bahan kayu dan bahkan terpal serta goni sekarang beton yang berlapiskan keramik maupun mar-mer. Bangunan yang dulunga berbentuk rumah panggung sekarang pencakar awan. Aku kagum dengan pesatnya pembangunan di daerah-daerah itu. Dari profil wilayah serta kemauan masyarakatnya untuk berbaur dan membuka diri membuatku yakin Suban pasti dapat seperti kota-kota tadi. Aku berani memperediksikan dua puluh lima tahun kedepan Suban akan jauh lebih maju dibandingkan Kuala Tungkal, Merlung, Singeti dan kota-kota lainnya. Potensi kelapa sawit di Suban bergerak cepat, dari pengamatanku pergerakan ini dimuli sejak tahun 2000. Antara selang waktu 2004 – 2007 gelombang perpindahan penduduk ke Suban sangat pesa hal ini mengakibatkan teransaksi ekonomi juga meningkat, namun di 2009 sempat sepi diakibatkan anjloknya harga kelapa sawit (imbas krisis global) namun di 2010 kembali bergerak lincah. Hal-hal inilah yang membuatku yakin kalau Suban suatu saat akan menyusul Kota Pinang, Duri,  Pangkalan Kerinci dan kota-kota lainnya.
Husin sangat senang saat aku meneleponnya, dia selalu bercerita tentang teman barunya gadis Kerinci yang suatu saat diharapkannya menjadi pendamping hidupnya. Dia selalu memujinya dan mengaguminya dan sekali-kali meledekku dan bertanya ‘Kamu kapan nie Brother?” Seperti kata Ringgo ‘may: maybe No! Maybe Yes!’ he-he-he.
Tiga bulan berlalu. Oktober 2010 aku terbang dari Soekarno – Hatta, Jakarta menuju Polonia, Medan. Senang rasanya “Medan, I’m Coming!”
Lega rasanya sampai di rumah. Suasana yang lama t’lah kurindukan; berkumpul dengan keluarga, dan jumpa teman lama. Hem! Seperti kembali ke masa lalu.

**********************
  Aktifitasku di kantor baruku membuat waktu istirahatku berkurang; tugas yang menumpuk, target kerja dan suasana kantor yang kurang menyenangkan membuatku tidak betah.
Enam bulan kemudian aku memutuskan angkat kaki dari perusahaan itu. Aku merasa tertekan, seakan ruang gerakku dipersempit, waktuku tersita dan yang paling tidak aku sukai, yakni: masalah gaji dan tanggung jawab serta kesempatan untuk mendapatkan promosi jabatan yang sangat tipis.
Selama selang waktu dua tahun aku melanglang  buana berpindah dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya; dari pegawai perusahaan telekomunikasi, bank swasta daerah, sales asuransi, kasir sowroom mobil, operator mixing dapur rekaman, pemusik di salah satu kafe di hotel berbintang 5, bahkan satpam bank BUMN. Namun, tidak ada yang membuatku betah dan tertantang. Bahkan aku pernah mengikuti pelatihan untuk menjadi TKI ke Jepang, itupun tidak selesai dan ku tinggalkan karena alasan tadi: tidak betah!
Aku kembali menjadi pengangguran. Kedua orang tua-ku selalu mendorongku untuk jangan lelah mencoba, baik di dunia kerja maupun dunia usaha. Mereka tidak letih – letihnya memberiku motifasi dan tidak jarang mereka juga mencarikan informasi baik lowongan kerja maupun peluang usaha. Selain memberikan informasi lowongan kerja dan peluang usaha, tidak jarang juga orang tuaku menawarkanku seorang wanita untuk calon pendamping hidup (maklum usiaku sudah hampir kepala tiga), mulai dari yang berprofesi sebagai pegawai negeri, pegawai swasta, BUMN, wiraswasa, bahkan pengangguran seperti aku. Namun semua ku tolak dengan alasan belum siap secara mental dan financial. Alasan kelasik!
Usiaku kini sudah 27 tahun kekwatiran bukan hanya sudah menghampiri orang tuaku; aku sendiri juga. Banyak teman-temanku sudah sukses dalam hal karir, usaha, dan keluarga. Terkadang hal ini membuatku minder dan menjatuhkan percaya diriku.... teman-temanku selalu bertanya: ‘ apa yang kamu tunggu? Apa yang kamu cari?’ yang aku sendiripun tidak tahu. 27 tahun pikirku; pengangguran, tidak punya pacar, kesepian dan yang gawatnya tidak punya tujuan hidup yang jelas. Aku butuh pencerahan!
Suatu malam sekitar pukul 23.20 wib telphon berdering. Ternyata dari seorang teman lama yang menyampaikan kabar kalau Husin sahabatku dibunuh....
  bersambung.......   

Mesera Pe Mehaga

Lit sekalak si Merga Ginting i bas sada kuta, sini i gelari kuta Simalem. I ja i bas kuta e terberita maka ia sekalak si sehkel jorena ras bage pe anak-anakna kerina megiken ajarna. Permain ras kelana pe kerina kalak sini jore.

Selain jore, Ginting mergana e pe i tandai sekalak si mehuli, nggit nampati, menahang tanna mere, mehamat, ras patuh erdibata. Kerina pendahinna ras kegeluhen keluargana tuhu-tuhu nuduhken sekalak sini erkemalangen man Dibata, maka kade-kade rikutken kerina anak kuta erngena ate nandangi kegeluhenna ras keluargana.

Bas sada paksa, i dilo Ginting mergana me ndeharana, anak-anak ras permenna bagepe kelana, sembuyakna ras kemberahenna kerina, bage pe temanna sini i kelengina. I sungkuna me kerna uga carana gelah banci persada mulihi(lebih mengakrabken) keluarga e. Maka terjadi me percakapen sini cukup panjang paksa si e sini akhirna mbuahken sada ide: gelahna anak singuda beru Ginting si sada nari lenga erjabu arah lima sembuyakna, i pejabuken me ras impalna. Tapi! Mbiar kel si Ginting Mergana enda pekitik ukur ras sura-sura rikut pengindo anak si beru Ginting sini kelengina, maka i suruhna me nande beru Tambar Malem ndilo beru Ginting e gelah i sungkun me sura-sura geluhna.

Kenca beru Ginting anak singuda enggo seh i adep-adepen bapana, maka nina: “ O, bapa sini erkeleng ate nandangi anak’du si beru Ginting anak singuda e. Kai nge ndia sura-sura ukur’du makana i dilondu aku anak’du beru Ginting kuadep-adepen’du O, bapaku?” janahna erjimpu i teruh ingan bapana kundul, nina ka: “turiken dage kata sorandu, maka asa gegeh ku lit ku dalanken sura-surandu o, bapa!”

I tagang Ginting mergana tan si beru Ginting, janah nina ngaloi: “Anakku! Keleng kel ateku. Enggo kel ku idah rikutken ras nande’du beru Tambar Malem maka enggo kam mbelin. Jadi, la kuakap salah nungkun kerna sura-sura geluhndu ku lebe. Me payo nge akap’du turang nande Ginting’ku?”

“Payo kel, bapa!” nina beru Ginting ka ngaloi, sambungna nina salu erpenungkun: “Tapi, kai nge kin ndia si jadi sura-surandu nandangi anakndu si beru Ginting e?”

Ngaloi nandena si beru Tambar Malem, nina: “O, anak ku! Ersura-sura kel maka bapandu persada mulihi kerina kade-kadenta, maka bas paksa kentisik ndai i dilona kerina bapa-bapandu, nande, senina, turang, kakandu, rikutken eda-edandu encakapken kerna si e, janah turah me ide gelahna i pejabuken me beru Ginting anak singuda ras salah sada impalna. Tapi, mbiar kel bapandu enda pekitik ukur, pusuh, rikutken pengindo maka i sungkunna me atena lebe kam, o anak ku!”

“Uai, anakku!” sambung Ginting Mergana, nina ka: “Labo berarti enda jadi sada keputusen si mesti i dalanken’du anak ku. Amin gia lit ukur ndu sideban; bicara enggo lit kin pe teman’du meriah sini ngena atendu, labo kitik ukur bapandu enda ngaloken keputusendu oh, anak si ku kelengi!”

Erjabab beru Ginting, nina: “Labo, bapa! Labo kitik ukurku ras lengabo lit ukurku sideban. Jadi, ula padah aru atendu ngerananken kerna sura-surandu nandangi anakndu enda! Sebab kai sini i surakenndu, em me sini jadi i bas geluhku, bapa!”
“Ula bage anakku! Megogo kel pagi atendu. Adi ukurndu pepagi ceda, maka e berarti ceda ka me ukur bapandu enda, anakku!”

“Labo, bapaku! Ku eteh maka keleng atendu la ku akap mungkin kai sini i surakendu nandangi aku erbahan ukurku ceda ras nurahken kini gogon pepagi wari. Jadi, jadilah min kai sini suraken’du nandangi beru Ginting anak singuda e.”

Cirem Ginting Mergana natap si beru Ginting anak singuda si keleng kel atena. I gelemna tan anakna e, janah i emaina. Teridah matana erkaca-kaca ngidah anakna si beru Ginting si megiken ajar. Malem kel atena megi kata-kata sini belasken anak ulih ajarna ras beru Tambar Malem atena ngena maka la i gejabna naktakka iluhna.

Enggo salang – sai kel ukur si Ginting Mergana kenca megi-megi ranan anakna si beru Ginting. Tapi! Bingung denga ia, sebab lit denga empat kalak beberena si sebaya ras beru Ginting e si langa empo, janah i etehna maka peempat kalak ken beberena e erngena ate nandangi beru Ginting enda rikutken bibi bage pe bengkilana kerina. Maka i sungkunna ka mulihi si beru Ginting, nina: “Tapi anakku! I etehndu maka lit denga empat kalak impal’du e si lenga empao ras i eteh kami maka peempat ken bebere kami e rikutken turang kami rasken silih kami kerina erngena ate nandangi kam, anakku!”

“Uai, anakku!” nina ka nandena si beru Tambar Malem nyambung kata si Ginting Mergana. Sambungna ka: “Lit nge ndia arah empat kalak bebere kami e si jadi i bas ukurndu o, anakku?” sungkun nandena.

Jabab beru Ginting ka, nina: “I idahndu nge oh, nande – bapa! Kerina impal kami e erngena ate nge nandangi kami anak-anakndu beru Ginting ras kami pe erkeleng ate ka, tapi keleng ate kami e seri ras keleng kami nandangi turang – senina, ras keleng ate kami ka nandangi bibi ras bengkila seri ka nge ras keleng ate kami nandangi nande ras bapa. Jadi, kai si jadi sura-surandu, em si jadi sura-sura bas ukur kami anak-anakndu!”

“Bage kin tuhu o, anakku?” sungkun bapa tuana.

“Uai, tuhu bage kel ukur kami bapa!” jabab beru Ginting.

            Teridah rukur si Ginting Mergana kerna si e. Bingung ia uga harus jadina erbahan kerna si e.

            “Dage, uga nge ndia si bahan e o, kaka tua?” sungkunna man Seninana.

            “Adi sungkundu aku o, agiku, labo ku beluh mbereken sada jawaben kerna ise, tapi adi uga sibahan nindu banci nge sidarami dalan sitepat.” Nina senina Ginting Mergana ngaloi penungkunen agina e.

            “Maksud’du uga si bahan carana, Tua?” sungkun Ginting Mergana ka mulihi.

            “Bagenda saja! Sibahan sada kerja-kerja sirempet-rempet maka tersengget sangkep nggeluh e! Sada kerja si kitik i bas paksa kentisik enda harus i lakoken, maka harus me erdahin(nampati) kerina bebereta salu pedas gelah kerja e terlakoken . I je pepagi si pindoken beberenta e me si tuhu-tuhu si erdahin, maka i je pepagi si idah me ise si tepat jadi teman anakta beru Ginting.” Nina senina Ginting Mergana ngaloi penungkunen agina e, sambungna nina ka: “I je kari siidah ise situhu-tuhuna bebereta e sini kelengna atena nandangi beru Ginting ras nandangi kita kalimbubuna.”

            “Adi bage kin akapndu cara si tepat, bage me si lakoken Tua!”

******************

Kenca dung percakapen e, i telepon Ginting Mergana me peempatken beberena ras i suruhna pepagi reh ku rumahna guna rana-rana.

Sada wari kenca si e, enggo me pulung peempatken beberena e, em kapken: 1) Karo-karo Sitepu Mergana sekalak pengusaha sukses bidang konstruksi ras gundari kundul i legeslatif DPRD tingkat II, 2) Tarigan Silangit Mergana em kapken sekalak PNS(sekretaris camat) ras sangana dalanken usaha ekspor sayuren ku luar negeri ras nandangi ndungi studi S-2, 3) Perangin-nangin Bangun Mergana sekalak pengacara sukses bage pe pengusaha ras genduari sangana ka ngikuti program S-2 ka, 4) em kapken Sembiring Meliala Mergana si sekalak perjuma-juma, dahinna nampati orang tuana i juma ras pe sekolahna tamat SMA ngenca. Hahahaha.... ;-)

Kenca pulung kalak e, maka i turiken Ginting Mergana kerna sura-surana erbahan sada kerja si kitik si hanya ngundang sangkep nggeluh sindeher saja. Tapi, perbahan waktuna enggo sempit maka i dilona me peempatken beberena e gelah nyikapken keperlun kerja-kerja e gelah banci i lakoken.

Bersambung.....

Minggu, 03 Juli 2011

Ercakap Tendi

by: Saprillia Ginting Suka & B. S.
Enggo sehkel dekahna i eteh maka Arihta Sembiring Depari ras Litna Br. Karo-karo Sinuhaji meriah erteman-teman. I bas sada paksa Kerja Tahun i kuta, i baba Arihta me temanna Hagana ku kuta, maka i jambur kuta e jumpa ka kalak e ras Litna maka i petandaken Arihta me Litna ras Hagana temanna sini i babana.

“Sitandan min kena duana, ula ka kena sinik-sinik saja.” Nina Arihta menaken percakapen.

 “Hagana!” nina ka teman Arihta man Litna.

“Litna.” Nina ka Litna janah nyalami tan Hagana.

“Beru kai nge ndia kam agi rikut bere-berena?” nina ka Hagana erpenungkun nandangi Litna.

“Aku beru Sinuhaji, bebere Sembiring, bang!” ngaloi Litna, nina ka: “Kam, kai ka nge ndia merga ras bebere ni baba ndu bang?”

“Aku, Tarigan mergaku janah beberena, bebere Perangin-angin Bangun.” Jawab Hagana ngaloi penungkunen Litna.

“O..” nina ka Litna janahna senyum natap Hagana.

“Adi enggo kena sitandan jenda kena lebe nake. Lit ka sitik dahinku ku rumah, enggo i sms adek aku e, suruhna gelah pedas ku rumah.” Nina Arihta nyambung percakapen e.

“Ikh! Ku ja ka atemu e nak?” sungkun Hagana, sambungna ka nina: “Me mulih denga nge engko e? Ula kari tarun ngidah singuda-nguda darat oh, lupa ka ko nandangi kami!”

“Hehehe... Labo nak co..” nina Arihta ka ngaloi, “labo ka lupa aku! Kentisik saja nge, adi nggo dung kari minter nge aku mulihi ku jambur enda. Me labo dalih?”

“Labo, bang!” aloi litna, nina ka: “ula kam melaun, ya bang?”

Aloi Arihta ka, nina: “Uai, dek! Adi nggo kari dung, minter nge aku ku jenda ka.”

“Adi bage pedas ko nak!” nina Hagata.

“Uai! Dage jenda kena lebe ya?” nina Arihta janahna lawes nadingken Litna ras Hagana i jambur.

Arihta, em kapken sekalak anak perana sini i tandai i kuta e sekalak si mbacar, mehuli, ras mehamat nandangi orang tua bage pe teman-temanna. Maka kerina anak kuta rikutken teman-temanna erngena ate ras keleng nandangi ia.

“I ja nge ndia nggo seh cakapta ndai dek?” nina ka Hagana nerusken percakapen sienggo kentisik ndai lolo.

“Nggo seh Tigapanah, bang!” nina ka janahna cirem, cairken suasana si kentisik paksa ndai beku.

“Hehehe..” tawa Hagana ngaloi kata Litna ndai, nina ka: “uga ka makana seh ia Tigapanah dek-ku, lit ka kin nahena erdalan seh ku Tigapanah oh? Hehehe...”

“Hehehe...” tawa ka Litna ngaloisa.

Si tatapen ras si cirem-ciremen kalak e duana. Piah-piah lanai tergejab ranan e entah enggo seh ku ja saja.

“Kam, kai nge ndia kegiaten-du i kuta, dek ku?” erpenungkun ka Hagana man Litna.    

“Biasalah bang adi i kuta! Ku juma aron, bang.” Ngaloi Litna jawab penungkunen Hagana, sambungna ka salu erpenungkun man Hagana, nina: “Adi kam, kai nge dahindu, bang?”

“Hm... Adi aku seri ka nge ras Arihta dek. Sada ingan kami erdahin i sorum, dek!”

“o...” nina Litna janahna cirem ka natap Hagana.

“Bicara enggo lepas kari kerja tahun enda, dek. Me labo dalih nge kita jumpa dek, amin gia kam ras Arihta sirondongen?” nyungkun ka Hagana man Litna.

            “Hm.. Labo dalih bang! Adi jumpa kari atendu i telphon-du entahpe sms-kn du aku.” Nina Litna janah mereken nomor handphone-na man Hagana.

Paksa meriah percakapen dua kalak e (Hagana ras Litna), maka reh mulihi Arihta si ndai nari i rumah, ndapeti dua kalak e si sangana ercakap-cakap denga i jambur.

“Ikh! Meriah ku idah cakap kena e, kai saja nge si enggo rananken kena duana?” sungkun Arihta man kalak si dua e.

“Labo kai pe nak! Ula padah ko mbiar. Ertutur saja nge aku ndai ras impalta ena. Hehehehe...” nina Hagana ngaloi.

Percakapen antara dua kalak e memang entisik denga i benaken, paksa Arihta mulih ku rumahna nadingken kalak dua e ercakap-cakap, tapi teridah maka kalak e duana tempa-tempa enggo akrab. 

..........................

Enggo ka lepas kerja tahun i bas kuta Arihta ras Litna. Amin bage, rusur me Litna ras Hagana si sms’n entah pe si-telphonen bage pe rusur ka nge kalak e duana jumpa erbuni-buni, janah piga-piga teman-teman Arihta bage pe anak kuta enggo rusur ngidah kalak e duana rusur erdalan-dalan janahna ergandengan tan.

Enggo kel enterem kalak si ngaduken e man Arihta, tapi la teh Arihta kerna si e perbahan ngenana kel atena nandangi Litna bage pe perbahan tekna kel ia nandangi temanna si sada dahin ras ia bage pe si enggo i anggapna seninana, si Hagana!

“Cakap anak kuta kai pe lit nge, Arihta!” nina Arihta bas ukurna mantah pengadun ras cakap teman-temanna bage pe anak kuta.
........................

I Bas sada wari, lit me sekalak anak kuta (teman Arihta) si la sengaja megi percakapen antara Litna ras sekalak anak perana i bas hp nari. I begina maka erjanjin kalak e duana jumpa hari minggu e i Tahura. Megi si e, minter i jumpaina Arihta ras ngataken kerna si e. La tek Arihta ras la diatena kerna si e, tapi lalap i usahaken temanna e gelah tek Arihta ras ajak Arihta gelah ngikuti Litna, atena gelah i idah Arihta langsung kai sienggo i lakuken Litna i pudina. Salu mberat ukur ras la tek i uaiken Arihta ajaken temanna e gelah mastiken uga kin situhuna.
...........................

Enggo menda seh warina, wari Minggu wari i ja Litna ras sekalak dilaki erjanji jumpa i Tahura. I idah Arihta me Litna bagi ersikap, tempa atena lawes jumpai sekalak, maka salu erbuni-buni i ikutken Arihta me si Litna pudi nari.

Seh i Tahura, terus i ikuti Arihta perdalan Litna, maka arah jarak kira-kira telu puluh meter i idah Arihta me Litna jumpa ras sekalak dilaki sini i tandaina. Kepeken si “Hagana!” Seh senggetna kel Arihta ngidah si e, tapi si erbahansa ia reh senggetna paksa i gamdeng Litna tan Hagana, nce paksa kalak dua e dalan-dalan janah sigandengen mesra. La tahan nari ukur Arihta ngidah-ngidah si e, maka salu emosi i dahi Arihta me kalak e duana.

“Ikh...!” nina Hagana ras Litna (sengget). Perbahan rempet Arihta muncul i lebe-lebe kalak enda duana.

“Kam e pal..?” nina Hagana.

“Kam! Kam, nim!” nina Arihta salu sora megang ras ngelayangken kambal-kambalna ku ayo Hagana “Pa...rr...!

Sada tinjun mendarat i ayo Hagana. Perbahan melasna kel ukur Arihta piah-piah lanai tertahanna emosina, maka piga-piga kali tinjunna mendarat i kula Hagana.

“La kusangka bage kepe perbahanenmu dua man bangku. Tek kel aku man engko duana, kepeken pudi-pudiku bage silakukenmu duana.” Nina Arihta salu emosi man Litna ras Hagana. Sinik saja kalak e duana (Litna ras Hagana) la i tehna harus uga.
‘Nce lawes me Arihta alu ukur si serbut ras kecewa. Mulih ia ku kutana salu keretana. I paccuna me keretana salu meter. I bas perdalanen mulih ku kuta, bas perukuren ras emosina si la stabil kurang-kurang meter lalap akapna keretana, maka kai pe lanai i gejabkenna...... kecelakan pe terjadi! Arihta luka parah ras i bas perdalanen ku rumah sakit Arihta lanai tertolong. Enggo leben ia ngadap ku lebe-lebe Dibata. Maka padanna enggo i sehkenna paksa si e, lawes me ia nadingken kerina rasa lalap.

Kejadin e erbahan nembeh ate anak kuta ernin Litna, perbahan i eteh kerina anak kuta kerna Arihta ras Litna selama e erteman meriah (sirondongen) kap, tapi perbahan kejadin e dalin-dalinna maka Arihta enggo lawes rasa lalap nadingken kerina maka melas kel ukur anak kuta ngidah-ngidah Litna.

................................

Rempet termedak Arihta! I pernehenna sekelewetna. Bingung ia! Erpenungkun i bas ukurna, nina: “engkai ka maka aku medem tengah pasar (jalan) e?”

           I idahna keretana (sepeda motor) ampar i tepi dalin, pas tedis atena rempet reh mobil truk melaju kencang ku arahna, nce nabrak ia. Perbahan senggetna, ngelebuh Arihta: “Tolong!” Tapi reh bingungna ia perbahan sangana truk nabrak ia sitik pe la i gejabna mesui, jadah turah ka penungkunen bas ukurna, nina: “Engkai maka sanga i tabrak truk oh ndai la aku luka tah pe mate?” seh kel bingungna arihta.

            Nce erdalan ia ku tepi dalan i ja keretana ampar. I angkatna kereta e tapi la mbera, i cubakena ka mulihi lalap la mbera, “Mungkin perbahan mbaru guling e aku maka la kesahku ngangkat kereta e.” Nina bas ukurna, sambungna ka: “Labo dalih! Ku tadingken saja gia kereta e, kari me banci kusuruh si Payo ngelegisa.”

            Sitik pe i bas perukuren ras pengingetna la ngeteh kai si enggo terjadi kerna ia. Maka i idahna lit angkot si ngadi minter ia kudatas angkot e.

.......................

            Seh i lebe-lebe rumahna. I idah Arihta maka enterem kalak si kubas-kudarat arah rumah e.
           
            “Ikh! Kai ka nge ndia e?” ersungkun ukurna, sambungna: “La ka kin ngata nande adina lit kerja-kerja i rumah maka la ku eteh sitik pe? Yah! Labo dalih. Mungkin gelah nyenggeti ate nande.”

            Maka erdalan me ia kubas rumah e. I idahna temanna si Payo kundul i teras, maka reh ukurna cakapi si Payo temanna kitik-kitik nari. Nina: “O, Payo!” lebuhna, tapi la ngaloi si Payo ras teridah tempa la perdiateken ia, maka nina ka: “sombong naring pe ko nak! Atek la sitandan kita maka ku lebuhi pe la diatem!”

            Lalap sinik saja si Payo, erbahan erpenungkun ka i bas ukur Arihta: engkai maka kerina jelma e la ndiate ia sanga ia ngerana, atena!

            Emaka erdalin ka Arihta ku bas rumahna. I idahna nande ras turangna kundul i amak i tengah-tengah jabu. Rupana mbulan, kusut, ras lesu bagi kalak latih ras ayona megara bagepe matana bagi kalak mbaru ngandung erkiteken kebenen. Tersungkun-sungkun lalap i bas pusuh Arihta: “Kai nge ndia si mbaru terjadi e? Engkai maka la ku eteh, ras engkaika maka la lit jelma si ngata man bangku?” Bage-bage rusur penungkunen i bas ukur Arihta kerna kai situhuna si enggo terjadi.
bersambung...